Mengolah Sampah Organik Menjadi Pakan Ternak

Ini telah mendorong sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Islam Yogyakarta (UII) untuk menggunakan sampah organik dalam sesuatu yang bermanfaat. Mereka adalah Ika Bayu Kartikasari, Fatma Wahyu dan Siti Hariyati. Berbekal pengetahuan yang mereka peroleh, ketiga siswa tersebut berhasil membuat pelet / ikan dengan kandungan protein tinggi menggunakan limbah organik, disebut Fish Slow Fish.

Gagasan yang dimulai cukup unik, di mana limbah organik digunakan sebagai sarana untuk pertumbuhan dan pengembangan larva lalat capung Sodier (BSF) yang nantinya akan menjadi komponen utama pembuatan pelet. ikan Lalat Black Sodier Fly (BSF) memiliki karakteristik tidak membawa kuman penyakit. Ika Bayu Kartikasari, koordinator kelompok, menjelaskan bahwa larva lalat BSF sangat rakus dalam dekomposisi berbagai limbah organik, seperti limbah rumah tangga, beras sisa, sisa sayuran, bahkan daun kering. Setelah melakukan tugas dekomposisi sampah mereka, larva lalat dapat dipanen sebagai bahan untuk membuat butiran. Jadi, ini bukan hanya volume sampah

berkurang tetapi juga menghasilkan granulator protein tinggi.

Anggota tim lainnya, Siti Hariyati, mengatakan bahwa untuk membuat lalat BSF bertelur dan bertelur di limbah organik, limbah organik harus diisolasi terlebih dahulu sehingga tidak ada jenis lalat lain yang mendarat di sana. Kemudian, tempatkan beberapa pemulia lalat BSF dalam limbah organik. Setelah itu, larva akan muncul dan memakan sampah organik yang telah disiapkan. Larva yang berkembang hingga fase Pra Pupa dianggap dipanen karena memiliki tekstur yang tidak terlalu keras dan memiliki kandungan protein tinggi.

Sementara itu, Fatma Wahyu menambahkan, larva lalat BSF dikenal sebagai salah satu serangga berprotein tinggi, sehingga sangat baik sebagai sumber makanan bagi hewan, baik burung maupun ikan. Selain sangat bergizi, larva lalat, yang merupakan bahan organik, juga tidak menyebabkan banyak pencemaran lingkungan. Untuk memproses larva lalat di butiran ikan, perlu melewati tahap-tahap khusus. Pada tahap awal, larva yang telah memasuki fase Pra Pupa dipisahkan dari larva lainnya. Pada fase ini, larva memiliki tekstur yang tidak terlalu keras dan memiliki kandungan protein yang tinggi. Larva terbunuh dengan memanggangnya sampai mengering dan berubah menjadi debu. Proses selanjutnya adalah mencampur larva bubuk bersama dengan bahan-bahan lain yang diperlukan untuk membuat butiran, seperti dedak, dedak, air dan pati. Setelah tercampur dengan baik, kemudian cetak, keringkan dan bentuk butiran dari pakan ikan ukuran standar. Pelet kering siap disemai

Karena metode pembuatannya tidak terlalu rumit, ketiga siswa berharap untuk mengirimkannya ke publik. Sehingga sampah organik dapat dikurangi dan masyarakat juga dapat menghasilkan ikan, ayam, unggas dan lainnya. Produk ini telah membawa tim ini ke tempat ketiga dalam kompetisi bisnis UTU Awards yang diadakan oleh Universitas Teuku Umar (UTU) di Meulaboh, Aceh, pada akhir tahun lalu.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>